Thawaf merupakan salah satu rangkaian utama dalam ibadah umroh yang dilakukan di Masjidil Haram, Makkah. Bagi jamaah yang baru pertama kali melaksanakan umroh, memahami tata cara thawaf dengan baik sangat penting agar ibadah dapat dilakukan dengan tenang, tertib, dan sesuai tuntunan.
Secara umum, thawaf dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dari arah Hajar Aswad dan berakhir di titik yang sama. Jamaah menempatkan Ka’bah di sebelah kiri selama melakukan putaran. Panduan manasik Kementerian Agama juga menjelaskan bahwa thawaf dapat dilakukan di beberapa lantai area Masjidil Haram dan jamaah perlu menjaga kesabaran ketika kondisi sedang padat. (Kemenag)
Apa Itu Thawaf Umroh?
Thawaf adalah ibadah dengan cara mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Thawaf menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah umroh dan dilakukan setelah jamaah memasuki Masjidil Haram dalam keadaan ihram.
Thawaf bukan sekadar aktivitas berjalan mengelilingi Ka’bah. Jamaah dianjurkan menjaga kekhusyukan, memperbanyak doa dan zikir, serta menghindari perbuatan yang dapat mengganggu jamaah lain.
Karena area thawaf dapat sangat ramai, jamaah perlu mengutamakan ketertiban dan keselamatan.
Persiapan Sebelum Melaksanakan Thawaf
Sebelum menuju area thawaf, jamaah sebaiknya memastikan beberapa hal telah dipersiapkan.
1. Memastikan Sudah Berwudu
Jamaah perlu memperhatikan kesucian sebelum melaksanakan thawaf sesuai tuntunan fikih yang diikuti. Karena itu, sebaiknya jamaah berwudu terlebih dahulu dan menjaga wudu selama thawaf.
Jamaah juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan apabila wudunya batal di tengah thawaf. Untuk persoalan yang berkaitan dengan perbedaan pendapat fikih, sebaiknya mengikuti bimbingan pembimbing ibadah yang mendampingi rombongan.
2. Memastikan Pakaian Ihram Sesuai
Jamaah laki-laki menggunakan pakaian ihram sesuai ketentuan, sedangkan jamaah perempuan menggunakan pakaian yang memenuhi ketentuan syariat.
Sebelum memasuki area thawaf, pastikan pakaian dalam kondisi rapi dan nyaman sehingga tidak perlu sering melakukan perbaikan ketika sedang berjalan.
3. Mengetahui Titik Awal Thawaf
Thawaf dimulai sejajar dengan Hajar Aswad. Di Masjidil Haram terdapat penanda berupa lampu hijau yang membantu jamaah mengenali arah tersebut. Setelah tujuh putaran, thawaf diakhiri di titik yang sama. (Kemenag)
Mengetahui titik awal sangat membantu jamaah agar tidak salah menghitung putaran.
Tata Cara Thawaf Umroh
Berikut gambaran umum tata cara thawaf umroh bagi jamaah pemula.
1. Menuju Area Thawaf
Setelah memasuki Masjidil Haram, jamaah menuju area thawaf dengan tetap menjaga ketenangan.
Jangan terburu-buru mencari posisi paling dekat dengan Ka’bah. Jika kondisi sangat padat, pilih posisi yang lebih aman dan nyaman untuk bergerak.
2. Menghadap ke Arah Hajar Aswad
Ketika berada di titik awal, jamaah bersiap memulai thawaf.
Jika memungkinkan tanpa membahayakan diri maupun jamaah lain, Hajar Aswad dapat diisyaratkan atau diusap sesuai kemampuan dan tuntunan yang dipelajari.
Kementerian Agama menjelaskan bahwa apabila tidak memungkinkan menyentuh atau mencium Hajar Aswad karena kepadatan, jamaah dapat memberikan isyarat. Jamaah juga dianjurkan tidak memaksakan diri hingga mendorong atau menyakiti orang lain. (Kementerian Agama)
3. Memulai Putaran Pertama
Jamaah memulai thawaf dari arah Hajar Aswad dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri.
Berjalanlah mengikuti arus jamaah dan jangan memotong jalur secara tiba-tiba.
Selama thawaf, jamaah dapat memperbanyak doa, zikir, istighfar, membaca Al-Qur’an, atau bacaan lain yang baik.
4. Menyelesaikan Tujuh Putaran
Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran.
Jamaah harus memperhatikan hitungan agar tidak bingung. Salah satu cara sederhana adalah menggunakan fokus pada setiap putaran dan tidak terlalu sibuk dengan aktivitas lain.
Jangan terlalu sering berhenti untuk mengambil foto atau berbicara dengan teman satu rombongan karena dapat mengganggu arus thawaf.
Apakah Ada Doa Khusus untuk Setiap Putaran?
Jamaah sering mendengar adanya bacaan tertentu untuk putaran pertama sampai ketujuh. Namun, jamaah tidak perlu menganggap bahwa setiap putaran harus memiliki doa tertentu yang wajib dibaca.
Selama thawaf, jamaah dapat berdoa dan berzikir sesuai kemampuan.
Kementerian Agama juga menyediakan panduan doa dan zikir manasik yang mencakup bacaan untuk berbagai bagian thawaf. (Kemenag Jatim)
Yang lebih penting adalah memahami makna ibadah dan menjaga kekhusyukan daripada sibuk menghafalkan terlalu banyak bacaan hingga kehilangan konsentrasi.
Bacaan Saat Melewati Rukun Yamani
Ketika melewati Rukun Yamani, terdapat tuntunan amalan tertentu. Jamaah hendaknya mengikuti panduan manasik yang telah dipelajari.
Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, jamaah dapat membaca doa yang masyhur:
“Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.”
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”
Selain itu, jamaah dapat memperbanyak doa lainnya sesuai kebutuhan.
Apakah Harus Mencium Hajar Aswad?
Mencium atau menyentuh Hajar Aswad merupakan amalan yang dianjurkan ketika mampu melakukannya dengan aman. Namun, jamaah tidak seharusnya memaksakan diri.
Kondisi di sekitar Hajar Aswad dapat sangat padat. Kementerian Agama mengingatkan bahwa jamaah sebaiknya tidak memaksakan diri ketika kondisi memungkinkan terjadinya dorong-mendorong. Jika tidak dapat menyentuhnya, jamaah dapat memberikan isyarat. (Kementerian Agama)
Keselamatan dan penghormatan kepada jamaah lain harus tetap diperhatikan.
Thawaf untuk Jamaah Lansia dan yang Memiliki Keterbatasan Fisik
Tidak semua jamaah memiliki kemampuan fisik yang sama.
Jamaah lansia, sakit, atau memiliki keterbatasan mobilitas dapat menyesuaikan pelaksanaan thawaf dengan kondisi masing-masing. Panduan Kementerian Agama menyebutkan bahwa jamaah yang uzur atau sakit dapat melakukan thawaf menggunakan kursi roda di area yang disediakan. (Kemenag)
Karena itu, jamaah tidak perlu merasa malu menggunakan bantuan ketika memang membutuhkannya.
Yang terpenting adalah ibadah dapat dilakukan dengan aman dan sesuai kemampuan.
Anjuran untuk Jamaah Laki-Laki
Dalam panduan manasik Kementerian Agama, jamaah laki-laki disunahkan melakukan ramal pada tiga putaran pertama dalam konteks thawaf tertentu, serta melakukan idhthiba’ sesuai ketentuannya. (Kemenag)
Namun, kondisi lapangan perlu menjadi pertimbangan. Jika area terlalu padat atau kondisi fisik tidak memungkinkan, jangan sampai pelaksanaan amalan sunnah menyebabkan jamaah lain terganggu atau membahayakan diri sendiri.
Jamaah sebaiknya mengikuti bimbingan pembimbing mengenai penerapannya.
Salat Setelah Thawaf
Setelah menyelesaikan tujuh putaran, jamaah dapat melaksanakan salat sunnah thawaf sesuai tuntunan.
Kementerian Agama dalam sejumlah panduan manasik menjelaskan pelaksanaan salat sunnah setelah thawaf. Namun, jamaah perlu memperhatikan kondisi Masjidil Haram dan arahan petugas karena lokasi di sekitar Maqam Ibrahim dapat sangat ramai.
Jangan memaksakan diri untuk salat di tempat yang menyebabkan arus jamaah terhambat.
Minum Air Zamzam
Setelah thawaf, jamaah dapat memanfaatkan kesempatan untuk minum air Zamzam di lokasi yang disediakan.
Lakukan dengan tertib dan jangan menghalangi jamaah lain. Setelah itu, jamaah melanjutkan rangkaian ibadah sesuai urutan manasik, termasuk menuju area sa’i.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Saat Thawaf
Jamaah pemula terkadang melakukan beberapa kesalahan karena belum terbiasa dengan kondisi Masjidil Haram.
Beberapa di antaranya adalah:
1. Terlalu Memaksakan Diri Mendekati Ka’bah
Tidak semua jamaah harus berada di lingkaran paling dekat dengan Ka’bah.
Jika kondisi padat, memilih area yang lebih longgar dapat membuat thawaf lebih aman dan nyaman.
2. Mendorong Jamaah Lain
Keinginan menyentuh Hajar Aswad atau mendekati Ka’bah tidak boleh menjadi alasan untuk mendorong orang lain.
Kementerian Agama secara khusus mengingatkan jamaah untuk bersabar dan tidak menghalangi atau mendahului jamaah lain ketika kondisi thawaf padat. (Kemenag)
3. Bingung Menghitung Putaran
Jangan terlalu banyak berbicara ketika thawaf karena dapat membuat konsentrasi terganggu.
Jika bersama rombongan, sepakati cara sederhana untuk membantu menghitung putaran.
4. Berhenti Mendadak
Berhenti secara tiba-tiba dapat mengganggu arus jamaah di belakang.
Jika membutuhkan waktu untuk beristirahat atau memperbaiki pakaian, menepilah ke area yang lebih aman.
5. Terlalu Fokus Mengambil Foto
Mengabadikan momen memang menarik, tetapi jangan sampai aktivitas tersebut mengurangi kekhusyukan atau mengganggu jamaah lain.
6. Berdebat Mengenai Tata Cara
Perbedaan pendapat fikih dapat ditemukan di antara jamaah. Hindari perdebatan ketika sedang beribadah.
Jika ragu mengenai suatu persoalan, tanyakan kepada pembimbing atau ustaz yang mendampingi.
Tips Thawaf untuk Jamaah Umroh Pemula
Agar thawaf berjalan lebih lancar, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan:
Pertama, pelajari manasik sebelum berangkat.
Jangan menunggu sampai tiba di Makkah untuk mempelajari seluruh tata cara thawaf.
Kedua, gunakan alas kaki yang nyaman sebelum masuk area ibadah sesuai ketentuan dan kebutuhan.
Jamaah perlu memperhitungkan bahwa aktivitas berjalan selama umroh cukup banyak.
Ketiga, jangan mengejar posisi paling dekat dengan Ka’bah.
Kekhusyukan ibadah tidak ditentukan oleh seberapa dekat posisi jamaah dengan Ka’bah.
Keempat, ikuti arus jamaah.
Hindari berjalan berlawanan arah atau memotong rombongan lain.
Kelima, jaga stamina.
Jika tubuh sudah terlalu lelah, beristirahatlah sesuai kebutuhan.
Keenam, simpan barang penting dengan aman.
Jangan membawa terlalu banyak barang ketika melakukan thawaf.
Ketujuh, tetap bersama rombongan.
Pastikan mengetahui lokasi berkumpul apabila terpisah dari pembimbing.
Checklist Sebelum Thawaf
Sebelum memulai thawaf, jamaah dapat melakukan pengecekan sederhana:
- Sudah memahami tata cara thawaf.
- Sudah berwudu.
- Pakaian ihram sudah sesuai.
- Mengetahui titik awal thawaf.
- Mengetahui cara menghitung tujuh putaran.
- Menyimpan barang penting dengan aman.
- Mengetahui lokasi pembimbing.
- Kondisi tubuh cukup fit.
- Tidak membawa barang yang mengganggu gerakan.
- Siap menjaga kesabaran dan tidak mendorong jamaah lain.
Makna Spiritual Thawaf
Thawaf mengajarkan jamaah tentang ketundukan dan kepatuhan kepada Allah SWT.
Jamaah dari berbagai negara berkumpul di sekitar satu kiblat dan melaksanakan ibadah dalam suasana yang sama. Perbedaan status sosial, pekerjaan, bahasa, dan kebangsaan menjadi tidak berarti ketika semua datang untuk beribadah kepada Allah.
Karena itu, thawaf sebaiknya dilakukan dengan hati yang tenang.
Jangan menjadikan thawaf sekadar aktivitas fisik untuk menyelesaikan tujuh putaran. Jadikan setiap langkah sebagai kesempatan untuk berdoa, mengingat Allah, memohon ampun, dan memperbaiki diri.
Penutup
Thawaf merupakan salah satu bagian penting dalam ibadah umroh yang perlu dipersiapkan dengan baik, terutama bagi jamaah pemula. Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran dengan memulai dari arah Hajar Aswad dan menempatkan Ka’bah di sebelah kiri.
Selain memahami tata caranya, jamaah juga perlu menjaga kesabaran, kekhusyukan, kesehatan, dan keselamatan. Jangan memaksakan diri untuk mencium Hajar Aswad atau berada di posisi tertentu apabila kondisi sangat padat. Kementerian Agama menekankan pentingnya mengendalikan diri dan tidak menghalangi jamaah lain ketika area thawaf penuh. (Kemenag)
Dengan persiapan manasik yang baik dan sikap yang tenang, jamaah dapat melaksanakan thawaf dengan lebih nyaman serta menjadikan rangkaian umroh sebagai pengalaman spiritual yang mendalam.