Mengusap Rukun Yamani: Sunnah yang Dianjurkan Saat Thawaf di Ka’bah

Mengusap Rukun Yamani: Sunnah yang Dianjurkan Saat Thawaf di Ka’bah

Bagi jamaah haji dan umrah, thawaf merupakan salah satu ibadah yang penuh makna dan keutamaan. Saat mengelilingi Ka’bah, terdapat beberapa sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ, salah satunya adalah mengusap Rukun Yamani. Meskipun sering kali perhatian jamaah lebih tertuju pada Hajar Aswad, Rukun Yamani juga memiliki kedudukan istimewa dalam pelaksanaan thawaf.

Mengusap Rukun Yamani merupakan amalan yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sunnah ini dapat dilakukan apabila kondisi memungkinkan dan tidak menimbulkan kesulitan atau gangguan bagi jamaah lain. Dengan memahami tata cara dan hikmah di balik amalan ini, jamaah dapat melaksanakan thawaf dengan lebih sempurna sesuai tuntunan syariat.

Apa Itu Rukun Yamani?

Rukun Yamani adalah sudut Ka’bah yang berada di sisi selatan dan mengarah ke wilayah Yaman, sehingga dikenal dengan nama “Yamani” yang berarti “Yaman”.

Ka’bah memiliki empat sudut utama, yaitu:

  1. Sudut Hajar Aswad.
  2. Rukun Iraqi.
  3. Rukun Syami.
  4. Rukun Yamani.

Di antara keempat sudut tersebut, hanya Hajar Aswad dan Rukun Yamani yang dianjurkan untuk disentuh saat thawaf. Hal ini berdasarkan praktik yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Kedudukan Rukun Yamani dalam Thawaf

Rukun Yamani memiliki keistimewaan tersendiri karena menjadi salah satu bagian Ka’bah yang sering disentuh oleh Rasulullah ﷺ saat melakukan thawaf.

Para ulama menjelaskan bahwa mengusap Rukun Yamani termasuk sunnah yang dianjurkan apabila seseorang dapat melakukannya tanpa berdesakan atau menyakiti jamaah lain. Jika tidak memungkinkan, maka cukup melanjutkan thawaf tanpa perlu memaksakan diri.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam selalu mengedepankan kemudahan dan menjaga keselamatan umat.

Hukum Mengusap Rukun Yamani

Mayoritas ulama sepakat bahwa mengusap Rukun Yamani hukumnya sunnah. Artinya, jamaah akan mendapatkan pahala apabila melakukannya, tetapi tidak berdosa jika meninggalkannya.

Karena statusnya sebagai sunnah, tidak dibenarkan jika seseorang sampai:

  • Mendorong jamaah lain.
  • Berdesakan secara berlebihan.
  • Menyakiti sesama Muslim.
  • Menimbulkan kekacauan dalam arus thawaf.

Menjaga adab dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam beribadah.

Tata Cara Mengusap Rukun Yamani

Pelaksanaan sunnah ini cukup sederhana.

Mendekati Rukun Yamani

Ketika thawaf dan mendekati Rukun Yamani, jamaah dapat berusaha mendekat dengan tetap menjaga ketertiban.

Mengusap dengan Tangan

Jika memungkinkan, cukup mengusap Rukun Yamani menggunakan tangan kanan.

Tidak Mencium Rukun Yamani

Berbeda dengan Hajar Aswad, tidak ada tuntunan untuk mencium Rukun Yamani setelah mengusapnya.

Tidak Memberi Isyarat Jika Tidak Bisa Menyentuh

Apabila tidak dapat menjangkaunya karena kondisi ramai, maka tidak perlu mengangkat tangan atau memberi isyarat dari kejauhan. Jamaah cukup melanjutkan thawaf seperti biasa.

Inilah salah satu perbedaan penting antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani.

Perbedaan Rukun Yamani dan Hajar Aswad

Banyak jamaah yang menganggap tata cara memperlakukan Rukun Yamani sama dengan Hajar Aswad. Padahal terdapat beberapa perbedaan yang perlu dipahami.

Rukun Yamani Hajar Aswad
Sunnah diusap jika memungkinkan Sunnah dicium jika memungkinkan
Tidak dicium setelah diusap Dianjurkan dicium
Tidak ada isyarat jika tidak bisa menyentuh Dianjurkan memberi isyarat jika tidak bisa mendekat
Tidak ada takbir khusus saat mengusap Dianjurkan membaca takbir saat sejajar

Memahami perbedaan ini membantu jamaah melaksanakan thawaf sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.

Doa Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad adalah membaca doa berikut:

“Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar.”

Artinya:

“Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”

Doa ini termasuk bacaan yang paling sering dibaca oleh jamaah saat thawaf karena diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Hikmah Mengusap Rukun Yamani

Di balik sunnah ini terdapat berbagai hikmah yang dapat dipetik oleh umat Islam.

Menghidupkan Sunnah Rasulullah ﷺ

Mengusap Rukun Yamani merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan mengikuti amalan yang beliau contohkan.

Melatih Ketaatan

Seorang Muslim melaksanakan sunnah ini bukan karena sudut Ka’bah tersebut memiliki kekuatan tertentu, tetapi karena ingin menaati Allah dan Rasul-Nya.

Mengingat Keagungan Baitullah

Saat menyentuh bagian Ka’bah, jamaah diingatkan akan kemuliaan rumah Allah yang menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia.

Menambah Kekhusyukan dalam Thawaf

Mengamalkan sunnah-sunnah thawaf dapat membantu jamaah lebih fokus dan khusyuk dalam beribadah.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Masih terdapat beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh sebagian jamaah saat berada di sekitar Rukun Yamani.

Berebut untuk Menyentuhnya

Sebagian orang terlalu bersemangat sehingga berdesakan demi menyentuh Rukun Yamani. Padahal sunnah tidak boleh dikerjakan dengan cara yang menimbulkan mudarat.

Mencium Rukun Yamani

Tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mencium Rukun Yamani sebagaimana beliau mencium Hajar Aswad.

Memberi Isyarat dari Jauh

Sebagian jamaah mengangkat tangan ketika tidak bisa menyentuh Rukun Yamani. Padahal yang diajarkan dalam sunnah adalah cukup meninggalkannya jika tidak memungkinkan untuk mengusap secara langsung.

Penutup

Mengusap Rukun Yamani merupakan salah satu sunnah yang dianjurkan saat thawaf di Ka’bah. Amalan ini menjadi bagian dari teladan Rasulullah ﷺ yang menunjukkan kecintaan beliau terhadap syiar-syiar Allah.

Meskipun hukumnya sunnah, mengusap Rukun Yamani memiliki nilai ibadah yang besar apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas dan sesuai tuntunan syariat. Namun demikian, Islam mengajarkan bahwa menjaga keselamatan, ketertiban, dan kenyamanan sesama jamaah harus selalu diutamakan daripada mengejar amalan sunnah dengan cara yang berlebihan.

Dengan memahami tata cara, adab, dan hikmah di balik sunnah ini, setiap jamaah dapat melaksanakan thawaf dengan lebih sempurna serta merasakan kedekatan spiritual yang mendalam kepada Allah SWT selama berada di Baitullah.