Ibadah Khusus Umroh di Makkah yang Perlu Diketahui Jamaah

Ibadah Khusus Umroh di Makkah yang Perlu Diketahui Jamaah

Makkah merupakan kota suci yang menjadi tujuan utama umat Islam dalam melaksanakan ibadah umroh. Setelah menyelesaikan perjalanan dari miqat dan memasuki Kota Makkah, jamaah akan melaksanakan rangkaian utama ibadah umroh di Masjidil Haram.

Bagi jamaah yang baru pertama kali menjalankan umroh, memahami ibadah apa saja yang perlu dilakukan di Makkah sangat penting. Dengan persiapan yang baik, jamaah dapat menjalankan ibadah secara lebih tenang, tertib, dan sesuai tuntunan.

Kementerian Agama melalui buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah menjelaskan berbagai ketentuan terkait pelaksanaan umroh, termasuk memasuki Masjidil Haram, thawaf, sa’i, dan tahallul. (Kemenag)

1. Memasuki Masjidil Haram dengan Adab yang Baik

Salah satu pengalaman paling mengharukan bagi jamaah umroh adalah pertama kali memasuki Masjidil Haram dan melihat Ka’bah.

Jamaah dianjurkan memasuki Masjidil Haram dengan tenang dan menjaga adab. Kementerian Agama dalam panduan manasik juga menyebutkan beberapa adab sebelum dan ketika memasuki Masjidil Haram, seperti berwudu, mendahulukan kaki kanan, serta bersikap santun ketika menuju tempat thawaf. (Kemenag)

Jangan terburu-buru ketika memasuki kawasan masjid. Berikan kesempatan kepada jamaah lain untuk berjalan dan ikuti arahan petugas apabila kondisi sedang padat.

2. Melaksanakan Thawaf Umroh

Thawaf merupakan salah satu rangkaian utama dalam ibadah umroh. Jamaah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri.

Panduan manasik Kementerian Agama menjelaskan bahwa thawaf dimulai dan diakhiri pada arah yang sejajar dengan Hajar Aswad. Jamaah juga harus berada dalam keadaan suci dari hadas ketika melakukan thawaf. (Kemenag DKI Jakarta)

Selama thawaf, jamaah dapat memperbanyak doa, zikir, dan bacaan yang baik. Tidak ada keharusan membuat doa khusus yang berbeda untuk setiap putaran.

Hal terpenting adalah menjaga ketenangan, tidak mendorong jamaah lain, dan tidak mengganggu orang yang sedang beribadah.

3. Berdoa di Sekitar Ka’bah

Makkah merupakan tempat yang sangat baik untuk memperbanyak doa. Jamaah dapat memanfaatkan waktu selama berada di Masjidil Haram untuk memohon ampunan, kesehatan, keberkahan, kemudahan hidup, dan kebaikan bagi keluarga.

Doa tidak harus panjang. Jamaah dapat berdoa menggunakan bahasa Arab maupun bahasa yang dipahami, sesuai dengan ketentuan dan situasi ibadah.

Yang terpenting adalah menghadirkan hati dan tidak mengganggu jamaah lain.

4. Melaksanakan Sa’i antara Shafa dan Marwah

Setelah menyelesaikan thawaf dan ibadah yang berkaitan dengannya sesuai tuntunan, jamaah melanjutkan rangkaian umroh dengan melaksanakan sa’i.

Sa’i dilakukan dengan berjalan antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan. Rangkaian ini mengingatkan jamaah pada perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk Nabi Ismail AS.

Sa’i bukan sekadar aktivitas berjalan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kesungguhan, usaha, kesabaran, tawakal, dan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT.

5. Melaksanakan Tahallul

Tahallul menjadi bagian akhir dari rangkaian utama ibadah umroh. Jamaah laki-laki mencukur atau memendekkan rambut, sedangkan jamaah perempuan memotong sebagian rambut sesuai ketentuan manasik yang diikuti.

Setelah tahallul dan terpenuhinya ketentuan umroh, jamaah keluar dari keadaan ihram.

Karena tahallul merupakan bagian penting dalam penyelesaian rangkaian umroh, jamaah sebaiknya memastikan tata caranya sudah dipahami sejak sebelum berangkat.

6. Memperbanyak Salat di Masjidil Haram

Selain melaksanakan rangkaian wajib atau rukun umroh, jamaah dapat memperbanyak salat di Masjidil Haram sesuai kemampuan.

Jamaah tidak perlu memaksakan diri mengejar sebanyak mungkin aktivitas ibadah jika kondisi tubuh sedang lelah. Istirahat juga penting agar tubuh tetap mampu menjalankan rangkaian ibadah berikutnya.

Kementerian Agama bahkan mengimbau jamaah untuk tidak berlebihan melakukan aktivitas tambahan yang menguras tenaga, termasuk umroh sunah berulang kali, terutama ketika kondisi fisik membutuhkan pemulihan. (Kemenag Sulteng)

7. Membaca Al-Qur’an

Waktu di Makkah dapat dimanfaatkan untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an.

Jamaah dapat membuat target sederhana, misalnya membaca beberapa halaman setelah salat fardu. Target tersebut dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Tidak perlu memaksakan target yang terlalu tinggi apabila justru membuat tubuh kelelahan.

Kualitas ibadah dan kekhusyukan tetap perlu menjadi perhatian.

8. Memperbanyak Zikir dan Istighfar

Zikir dan istighfar merupakan aktivitas ibadah yang dapat dilakukan dengan relatif ringan. Jamaah dapat mengisinya ketika menunggu waktu salat, berada di hotel, atau dalam perjalanan.

Beberapa bacaan yang dapat diamalkan antara lain:

  • Tasbih.
  • Tahmid.
  • Takbir.
  • Tahlil.
  • Istighfar.
  • Shalawat.
  • Membaca Al-Qur’an.

Jamaah juga dapat memperbanyak doa untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang yang telah meminta didoakan.

9. Melaksanakan Thawaf Sunnah Jika Mampu

Selain thawaf yang menjadi bagian dari rangkaian umroh, jamaah yang berada di Makkah dapat melakukan thawaf sunnah sesuai kemampuan.

Thawaf sunnah berbeda dengan thawaf umroh karena tidak dilanjutkan dengan sa’i sebagai bagian dari rangkaian tersebut. Kementerian Agama menjelaskan bahwa thawaf sunnah dapat dilakukan pada kesempatan tertentu ketika jamaah berada di Masjidil Haram. (Kemenag Sulteng)

Namun, jamaah tidak perlu merasa harus melakukan thawaf sunnah terus-menerus.

Jika tubuh lelah, beristirahat merupakan pilihan yang bijaksana.

10. Menjaga Kekhusyukan di Masjidil Haram

Masjidil Haram sangat ramai, terutama pada waktu-waktu tertentu. Jamaah perlu menjaga kekhusyukan diri sekaligus menghormati jamaah lain.

Beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan:

  • Tidak berbicara keras.
  • Tidak bercanda berlebihan.
  • Tidak mendorong jamaah lain.
  • Tidak berhenti mendadak di jalur berjalan.
  • Tidak mengambil foto di lokasi yang mengganggu arus jamaah.
  • Tidak berebut tempat.
  • Mengikuti arahan petugas.

Kesabaran sangat diperlukan ketika beribadah di tempat yang dipenuhi jutaan manusia dari berbagai negara.

11. Berdoa Tanpa Mengganggu Jamaah Lain

Keinginan mendapatkan tempat tertentu untuk berdoa terkadang membuat jamaah memaksakan diri. Padahal, ibadah seharusnya dilakukan dengan tetap memperhatikan kenyamanan orang lain.

Jika suatu tempat sangat penuh, jangan mendorong atau memaksa masuk.

Jamaah dapat mencari lokasi yang lebih aman dan tenang untuk beribadah. Tujuan utama berada di Makkah adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan mendapatkan posisi tertentu dengan mengorbankan kenyamanan jamaah lain.

12. Mengunjungi Tempat Bersejarah di Makkah

Selain beribadah di Masjidil Haram, jamaah biasanya memiliki kesempatan untuk mengenal sejumlah tempat bersejarah di sekitar Makkah.

Namun, kegiatan ziarah bukan bagian dari rukun umroh. Karena itu, jamaah sebaiknya memprioritaskan ibadah utama dan mempertimbangkan kondisi fisik sebelum mengikuti perjalanan tambahan.

Jangan sampai aktivitas ziarah yang terlalu padat menyebabkan tubuh kelelahan.

13. Memanfaatkan Waktu di Hotel untuk Ibadah

Ibadah selama berada di Makkah tidak harus selalu dilakukan di Masjidil Haram.

Ketika tubuh membutuhkan istirahat, jamaah dapat mengisi waktu di hotel dengan membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, mempelajari manasik, atau beristirahat.

Kementerian Agama mengingatkan bahwa jamaah tidak perlu memaksakan aktivitas fisik apabila kondisi tubuh tidak memungkinkan. (Kemenag Sulteng)

Dengan demikian, menjaga stamina juga menjadi bagian penting dari persiapan agar ibadah tetap berjalan dengan baik.

14. Menjaga Kondisi Fisik Selama di Makkah

Cuaca Makkah dapat terasa sangat panas bagi jamaah dari Indonesia. Ditambah dengan aktivitas berjalan kaki dan kepadatan jamaah, kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan.

Beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga stamina antara lain:

  • Minum air yang cukup.
  • Makan secara teratur.
  • Tidur yang cukup.
  • Menggunakan perlindungan dari panas.
  • Tidak terlalu sering keluar hotel tanpa keperluan.
  • Beristirahat ketika tubuh mulai lelah.
  • Mengikuti kemampuan fisik masing-masing.

Kementerian Agama juga mengimbau jamaah menjaga nutrisi, makan dan istirahat secara teratur, serta membatasi aktivitas yang tidak diperlukan. (Kemenag Sulteng)

15. Tetap Bersama Rombongan

Jamaah umroh sebaiknya tidak mudah memisahkan diri dari rombongan, terutama ketika menuju Masjidil Haram atau lokasi lain yang ramai.

Catat nama hotel, nomor kamar, nomor kontak pembimbing, dan informasi penting lainnya.

PPIH juga mengingatkan pentingnya tetap berkelompok dan mengetahui titik bantuan apabila jamaah tersesat di sekitar Masjidil Haram. (https://sulbar.kemenag.go.id)

Bagi jamaah yang baru pertama kali datang ke Makkah, kebiasaan ini sangat membantu menjaga keamanan.

16. Menghindari Umroh Sunnah Secara Berlebihan

Ada jamaah yang ingin memperbanyak umroh sunnah selama berada di Makkah. Keinginan tersebut dapat dipahami, tetapi jangan sampai dilakukan secara berlebihan hingga menguras stamina.

Kementerian Agama pernah mengimbau jamaah agar membatasi aktivitas yang menguras tenaga, termasuk umroh sunnah berulang kali, demi menjaga kesehatan. (Kemenag Sulteng)

Jamaah dapat mengatur keseimbangan antara ibadah utama, ibadah sunnah, istirahat, makan, dan kebutuhan fisik.

17. Menjadikan Makkah sebagai Kesempatan Memperbaiki Diri

Perjalanan umroh sebaiknya tidak hanya menjadi perjalanan fisik dari Indonesia menuju Arab Saudi.

Makkah dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi diri. Jamaah dapat menggunakan waktu untuk memohon ampun atas kesalahan, memperbaiki hubungan dengan keluarga, meningkatkan kedisiplinan ibadah, dan memperkuat komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dengan demikian, manfaat umroh diharapkan tidak berhenti ketika jamaah meninggalkan Tanah Suci.

Urutan Singkat Ibadah Umroh di Makkah

Secara sederhana, rangkaian utama umroh dapat dipahami sebagai berikut:

Miqat dan ihram → Talbiyah → Masuk Masjidil Haram → Thawaf 7 putaran → Sa’i 7 perjalanan → Tahallul → Selesai umroh.

Detail pelaksanaan setiap tahap sebaiknya dipelajari melalui bimbingan manasik dari pembimbing yang kompeten agar jamaah memahami ketentuan sesuai tuntunan yang dianut.

Tips Agar Ibadah Umroh di Makkah Lebih Khusyuk

Agar waktu di Makkah dapat dimanfaatkan secara optimal, jamaah dapat menerapkan beberapa tips berikut:

  1. Pelajari manasik sebelum keberangkatan.
  2. Tentukan prioritas ibadah.
  3. Jangan memaksakan kondisi fisik.
  4. Perbanyak doa dan zikir.
  5. Kurangi aktivitas yang tidak diperlukan.
  6. Jaga adab terhadap jamaah lain.
  7. Ikuti arahan pembimbing dan petugas.
  8. Simpan barang penting dengan aman.
  9. Selalu mengetahui lokasi hotel.
  10. Gunakan waktu istirahat dengan baik.

Penutup

Ibadah khusus umroh di Makkah memiliki rangkaian utama yang perlu dipahami jamaah, yaitu thawaf, sa’i, dan tahallul setelah melaksanakan ketentuan ihram dan niat umroh. Selain rangkaian tersebut, jamaah dapat mengisi waktu di Makkah dengan salat, membaca Al-Qur’an, zikir, doa, dan berbagai ibadah sunnah sesuai kemampuan.

Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga kesehatan, kesabaran, ketertiban, dan adab selama berada di Masjidil Haram. Jangan sampai keinginan memperbanyak aktivitas ibadah justru membuat tubuh terlalu lelah. Kementerian Agama juga mengingatkan jamaah agar tidak memaksakan aktivitas fisik dan tetap memperhatikan waktu istirahat. (Kemenag Sulteng)

Dengan persiapan manasik yang baik, kondisi fisik yang terjaga, serta niat yang ikhlas, jamaah dapat menjalani ibadah umroh di Makkah dengan lebih tenang dan penuh penghayatan.