Rukun Yamani dan Hajar Aswad merupakan dua bagian penting dari bangunan Ka’bah yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam ibadah haji dan umrah. Keduanya sering menjadi perhatian jamaah ketika melaksanakan tawaf di Masjidil Haram, Makkah. Meskipun sama-sama berada di sudut Ka’bah dan memiliki tuntunan khusus dalam ibadah, Rukun Yamani dan Hajar Aswad mempunyai perbedaan dari segi letak, bentuk, serta tata cara menyikapinya.
Hajar Aswad merupakan batu berwarna hitam yang terletak di sudut timur Ka’bah. Batu ini menjadi titik awal sekaligus akhir setiap putaran tawaf. Jamaah disunnahkan untuk menghadap, menyentuh, dan mencium Hajar Aswad apabila memungkinkan tanpa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Jika tidak dapat mendekatinya, jamaah dapat memberikan isyarat dengan tangan sambil bertakbir. Hajar Aswad juga memiliki sejarah tersendiri dalam tradisi Islam dan dikenal sebagai batu yang berasal dari surga berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ.
Sementara itu, Rukun Yamani terletak di sudut barat daya Ka’bah, tepat sebelum jamaah mencapai Hajar Aswad ketika berjalan mengikuti arah tawaf. Berbeda dengan Hajar Aswad, Rukun Yamani tidak memiliki batu hitam yang menonjol seperti sudut tersebut. Rasulullah ﷺ mencontohkan untuk menyentuh Rukun Yamani ketika melewatinya apabila memungkinkan. Namun, jamaah tidak disunnahkan mencium Rukun Yamani ataupun memberikan isyarat tangan jika tidak dapat menjangkaunya.
Kedua tempat ini juga berkaitan dengan bacaan doa yang sangat dianjurkan ketika tawaf. Saat berjalan dari Rukun Yamani menuju Hajar Aswad, jamaah dianjurkan membaca doa Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar. Doa ini mengandung permohonan kebaikan dunia dan akhirat serta perlindungan dari siksa neraka. Dengan memahami perbedaan Rukun Yamani dan Hajar Aswad, jamaah dapat menjalankan tawaf sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ tanpa melakukan amalan yang tidak memiliki dasar.