Shalat dua rakaat setelah thawaf bukan sekadar amalan yang dianjurkan oleh para ulama, tetapi merupakan sunnah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa setelah menyelesaikan thawaf, beliau menuju Maqam Ibrahim dan melaksanakan shalat dua rakaat.
Para ulama menjelaskan bahwa amalan ini menjadi bagian dari kesempurnaan thawaf sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika melaksanakan haji dan umrah. Oleh karena itu, jamaah yang ingin mengikuti sunnah Rasulullah secara sempurna hendaknya berusaha melaksanakan shalat ini setelah thawaf.
Hubungan Maqam Ibrahim dengan Shalat Thawaf
Maqam Ibrahim memiliki sejarah yang sangat istimewa dalam Islam. Tempat ini diyakini sebagai lokasi pijakan Nabi Ibrahim AS ketika membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail AS.
Karena kemuliaannya, Allah SWT menyebutkan Maqam Ibrahim dalam Al-Qur’an dan menganjurkan kaum Muslimin menjadikannya sebagai tempat shalat.
Namun penting untuk dipahami bahwa yang dimaksud bukanlah kewajiban shalat tepat menempel atau sangat dekat dengan Maqam Ibrahim. Apabila kondisi memungkinkan, tentu itu lebih utama. Akan tetapi ketika area tersebut padat, jamaah dapat melaksanakan shalat di bagian lain Masjidil Haram tanpa mengurangi nilai ibadahnya.
Bacaan yang Dianjurkan dalam Shalat Thawaf
Para ulama menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ membaca surah tertentu dalam shalat dua rakaat setelah thawaf.
Rakaat Pertama
Setelah membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surah Al-Kafirun:
“Qul ya ayyuhal kafirun…”
Surah ini mengandung pesan tentang kemurnian tauhid dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.
Rakaat Kedua
Setelah membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surah Al-Ikhlas:
“Qul huwallahu ahad…”
Surah ini menegaskan keesaan Allah SWT dan menjadi inti ajaran tauhid dalam Islam.
Kedua surah tersebut sangat sesuai dengan makna ibadah haji dan umrah yang berpusat pada penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa.
Waktu Pelaksanaan Shalat Setelah Thawaf
Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat dua rakaat thawaf tetap disyariatkan setelah thawaf selesai dilaksanakan.
Apabila seseorang melakukan thawaf pada waktu yang tidak termasuk waktu terlarang untuk shalat, maka ia dapat langsung melaksanakannya.
Dalam kondisi tertentu seperti kepadatan jamaah yang luar biasa, seseorang boleh menunda pelaksanaannya hingga mendapatkan tempat yang lebih aman dan memungkinkan untuk shalat dengan khusyuk.
Keutamaan Menjaga Kekhusyukan
Banyak jamaah sangat bersemangat melaksanakan shalat setelah thawaf. Namun terkadang perhatian yang berlebihan terhadap lokasi atau posisi membuat mereka kehilangan kekhusyukan.
Padahal tujuan utama dari shalat ini adalah menghadapkan hati kepada Allah SWT.
Kekhusyukan dapat dijaga dengan cara:
- Memahami bacaan yang dibaca.
- Mengingat kebesaran Allah SWT.
- Menghindari gangguan yang tidak perlu.
- Memilih tempat yang tenang apabila memungkinkan.
- Tidak terburu-buru dalam gerakan shalat.
Shalat yang dilakukan dengan hati yang hadir akan memberikan pengaruh yang lebih besar dalam kehidupan seorang Muslim.
Pelajaran Tauhid dari Shalat Setelah Thawaf
Salah satu hikmah yang paling menonjol dari shalat thawaf adalah penguatan tauhid.
Setelah seorang Muslim mengelilingi Ka’bah sebagai simbol penghambaan kepada Allah, ia kemudian berdiri menghadap kiblat untuk melaksanakan shalat yang berisi pujian, doa, dan pengakuan akan keesaan Allah SWT.
Rangkaian ini mengajarkan bahwa seluruh bentuk ibadah, baik thawaf maupun shalat, hanya ditujukan kepada Allah semata.
Karena itu, perjalanan haji dan umrah sejatinya merupakan perjalanan untuk memperbarui komitmen tauhid dalam kehidupan seorang Muslim.
Menjadikan Shalat Thawaf Sebagai Momentum Muhasabah
Shalat dua rakaat setelah thawaf juga dapat menjadi momen untuk melakukan introspeksi diri.
Saat berdiri dalam shalat, jamaah dapat merenungkan:
- Dosa-dosa yang pernah dilakukan.
- Nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya.
- Harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
- Keinginan untuk istiqamah dalam ketaatan.
Banyak jamaah yang merasakan ketenangan dan kedekatan yang luar biasa kepada Allah SWT setelah melaksanakan shalat ini dengan penuh penghayatan.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Agar pelaksanaan shalat thawaf sesuai dengan sunnah, beberapa hal berikut perlu diperhatikan:
Menganggap Shalat Thawaf Sebagai Kewajiban Mutlak
Shalat ini memang sangat dianjurkan, tetapi hukumnya sunnah menurut mayoritas ulama. Oleh karena itu, seseorang tidak perlu merasa putus asa apabila mengalami kendala tertentu dalam pelaksanaannya.
Mengganggu Jamaah yang Sedang Thawaf
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memilih tempat shalat di jalur thawaf. Hal ini dapat menghambat pergerakan jamaah lain dan mengurangi kenyamanan ibadah mereka.
Terlalu Fokus pada Formalitas
Yang paling penting bukan hanya menyelesaikan dua rakaat, tetapi juga menghadirkan hati dan keikhlasan dalam ibadah tersebut.
Penutup Lanjutan
Shalat dua rakaat setelah thawaf merupakan sunnah yang penuh keutamaan dan menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah di Baitullah. Melalui shalat ini, seorang Muslim tidak hanya mengikuti teladan Rasulullah ﷺ, tetapi juga memperkuat hubungan spiritualnya dengan Allah SWT.
Dengan memahami tata cara yang benar, menjaga adab, dan menghadirkan kekhusyukan, shalat thawaf dapat menjadi salah satu momen paling berkesan selama perjalanan haji maupun umrah. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, memberikan kesempatan untuk beribadah di Tanah Suci, dan menjadikan setiap langkah thawaf serta setiap rakaat shalat sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.