Bagi umat Islam yang melaksanakan ibadah haji maupun umrah, salah satu momen yang paling dinanti adalah kesempatan untuk mendekati Hajar Aswad. Batu yang terletak di salah satu sudut Ka’bah ini memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam dan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan thawaf.
Mencium atau mengusap Hajar Aswad merupakan amalan sunnah yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Namun, banyak jamaah yang belum memahami tata cara, hukum, dan adab yang benar ketika ingin melaksanakan sunnah tersebut. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui makna dan tuntunan syariat terkait Hajar Aswad agar ibadah yang dilakukan tetap sesuai dengan ajaran Islam.
Apa Itu Hajar Aswad?
Hajar Aswad adalah batu yang terletak di sudut timur Ka’bah. Batu ini menjadi titik awal dan akhir setiap putaran thawaf. Menurut berbagai riwayat, Hajar Aswad berasal dari surga dan pada awalnya berwarna putih, kemudian berubah menjadi hitam akibat dosa-dosa manusia.
Hajar Aswad memiliki kedudukan yang mulia karena pernah disentuh, dicium, dan dihormati oleh Rasulullah ﷺ. Namun, umat Islam tidak menyembah batu tersebut. Penghormatan kepada Hajar Aswad dilakukan semata-mata karena mengikuti sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
Sejarah Hajar Aswad
Dalam sejarah pembangunan Ka’bah, Hajar Aswad memiliki peran yang sangat penting. Ketika suku-suku Quraisy merenovasi Ka’bah sebelum masa kenabian, terjadi perselisihan mengenai siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya.
Perselisihan tersebut akhirnya diselesaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ yang saat itu belum diangkat menjadi rasul. Beliau membentangkan kain, meletakkan Hajar Aswad di atasnya, lalu meminta para pemimpin suku untuk mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai di tempatnya, beliau sendiri yang meletakkan batu tersebut pada posisinya di Ka’bah.
Peristiwa ini menunjukkan kebijaksanaan Rasulullah ﷺ dan menjadi salah satu kisah penting dalam sejarah Islam.
Hukum Mencium Hajar Aswad
Mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah bagi orang yang mampu melakukannya tanpa menyakiti dirinya sendiri maupun orang lain.
Rasulullah ﷺ mencontohkan amalan ini saat melaksanakan thawaf. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan mengikuti sunnah tersebut apabila keadaan memungkinkan.
Namun, jika kondisi sangat padat dan berisiko menimbulkan desakan, pertengkaran, atau bahaya bagi jamaah lain, maka tidak perlu memaksakan diri. Menjaga keselamatan dan menghormati sesama Muslim lebih diutamakan dibandingkan mengejar amalan sunnah.
Tata Cara Mencium Hajar Aswad
Apabila memiliki kesempatan mendekati Hajar Aswad dengan aman, berikut tata caranya:
- Mendekati Hajar Aswad dengan tenang.
- Menghadap ke arah batu tersebut.
- Mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar.”
- Mencium Hajar Aswad secara langsung.
- Kemudian melanjutkan thawaf.
Cara ini merupakan bentuk ittiba’ atau mengikuti contoh Rasulullah ﷺ.
Jika Tidak Bisa Mencium Hajar Aswad
Karena padatnya jamaah, sebagian besar orang tidak memiliki kesempatan untuk mencium Hajar Aswad secara langsung. Dalam kondisi seperti ini, syariat memberikan beberapa alternatif.
Mengusap dengan Tangan
Jika memungkinkan untuk menyentuhnya tanpa dapat mencium, maka cukup mengusap Hajar Aswad dengan tangan lalu mencium tangan tersebut.
Mengusap dengan Tongkat atau Benda
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyentuh Hajar Aswad menggunakan tongkat kemudian mencium tongkat tersebut.
Memberi Isyarat dari Kejauhan
Jika tidak memungkinkan mendekat, cukup mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad sambil mengucapkan:
“Bismillahi Allahu Akbar.”
Cara ini paling banyak dilakukan oleh jamaah karena lebih aman dan tidak menimbulkan kerumunan.
Mengapa Umat Islam Menghormati Hajar Aswad?
Pertanyaan ini sering muncul, terutama dari kalangan non-Muslim. Jawabannya sangat jelas: umat Islam tidak menyembah Hajar Aswad.
Penghormatan terhadap Hajar Aswad dilakukan karena mengikuti perintah dan teladan Rasulullah ﷺ.
Salah satu perkataan terkenal dari Umar bin Khattab ketika mencium Hajar Aswad adalah:
“Aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak dapat memberi manfaat maupun mudarat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah mencium engkau, niscaya aku tidak akan menciummu.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada Hajar Aswad merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan karena meyakini batu tersebut memiliki kekuatan gaib.
Adab Saat Berusaha Mendekati Hajar Aswad
Tidak Menyakiti Jamaah Lain
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah saling dorong demi mendapatkan kesempatan mencium Hajar Aswad. Padahal Islam sangat menekankan akhlak dan keselamatan sesama Muslim.
Menjaga Kesabaran
Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Jika belum berhasil mendekati Hajar Aswad, hendaknya tetap bersabar dan tidak kecewa.
Mengutamakan Kekhusyukan
Tujuan utama thawaf adalah beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai keinginan menyentuh Hajar Aswad justru membuat seseorang kehilangan kekhusyukan atau melupakan adab terhadap jamaah lain.
Keutamaan Hajar Aswad dalam Islam
Hajar Aswad memiliki keutamaan tersendiri dalam syariat Islam. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa batu ini akan menjadi saksi bagi orang-orang yang menyentuhnya dengan penuh keimanan pada hari kiamat.
Keutamaan tersebut semakin menunjukkan kemuliaan Hajar Aswad sebagai salah satu syiar Allah yang berada di Ka’bah.
Namun demikian, para ulama selalu mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah berhasil mencium atau menyentuh Hajar Aswad, melainkan keikhlasan dan ketakwaan dalam beribadah kepada Allah SWT.
Penutup
Mencium atau mengusap Hajar Aswad merupakan sunnah yang sangat dianjurkan bagi jamaah haji dan umrah ketika melaksanakan thawaf. Amalan ini memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi karena dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.
Meski demikian, Islam mengajarkan bahwa keselamatan, kesabaran, dan penghormatan terhadap sesama jamaah harus lebih diutamakan daripada memaksakan diri untuk menyentuh Hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan untuk mendekat, memberi isyarat dari kejauhan tetap termasuk sunnah dan mendapatkan pahala insya Allah.
Dengan memahami makna serta adab yang benar, umat Islam dapat melaksanakan sunnah ini dengan penuh kekhusyukan dan sesuai tuntunan syariat, sehingga ibadah haji maupun umrah menjadi lebih sempurna dan penuh keberkahan.